Harimau Leluhur di Bukit Sarang Macan Bengkulu, Hutan Lindung Desa yang Tak Bisa Terjamah oleh Manusia

Harimau Leluhur di Bukit Sarang Macan Bengkulu, Hutan Lindung Desa yang Tak Bisa Terjamah oleh Manusia

Harimau Leluhur di Bukit Sarang Macan Desa Ladang Palembang Bengkulu, Hutan Lindung Desa yang Tak Bisa Terjamah oleh Manusia-ilustrasi-

RADARLEBONG.ID - Tak banyak yang mengetahui jika Bukit Sarang Macan yang berada di Desa Ladang Palembang Kecamatan Lebong Utara Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu ternyata menyibak beberapa cerita akan makhluk ghaib yang sering menjelma sebagai hewan harimau. 

Harimau ghaib itupun konon memiliki istana lengkap dengan masyarakat dan tata pemerintahan.

Tak hanya itu,di Bukit Sarang Macan, warga tidak ada yang berani untuk menangkap ataupun membunuh harimau yang bila dilakukan maka sama artinya dengan membunuh leluhur. 

Meski hingga saat ini Desa Ladang Palembang yang berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat perekonomian Ibu Kota Lebong dengan luas wilayah 662 hektare dan didaimi sekitar ratusan kepala keluarga dengan mayoritas penduduk bersuku sunda, masih tetap ada hingga saat ini.

BACA JUGA:Bukan Hanya Story! Ini Asal Usul Bukit Sarang Macan Provinsi Bengkulu

Namun, keberadaan Bukit Sarang Macan tetap ada bahkan, Bukit Sarang Macan sebagai Hutan Lindung Desa yang itu artinya tidak diperbolehkan adanya perburuan atau kegiatan terlarang lainnya dalam wilayah Bukit Sarang Macan. 

Yangmana, diterbentuknya Bukit Sarang Macam tak terlepas dari peran Saryono, yang tatkala itu sosok Kepala Desa dengan dukungan KKI Warsi.

Bukit Sarang Macan dalam bahasa Rejang adalah Tebo Sa'ang Imau yakni tempat harimau jelmaan atau reinkarnasi leluhur bertemu.

Konon, leluhur tersebut akan bertemu bila situasi panas atau dalam kondisi tidak baik, misalnya, ada warga melanggar adat atau berbuat amoral.

BACA JUGA:Bukit Sarang Macan Provinsi Bengkulu, Legenda Harimau Siluman yang Konon Hidupnya Bestie dengan Masyarakat

Selain muncul saat situasi tidak baik, konon harimau juga  biasa menampakkan diri pada bulan Maulud atau Maulid Nabi. Oleh karena itu, cerita warga bertemu harimau adalah bukan hal biasa.

Hanya saja, sejauh ini harimau hanya sering menampakkan saja tanpa pernah melukai atau membunuh.

Bukit Sarang Macan pun, juga konon dipercaya sebagai tempat harimau mencari mangsa. Sehingga, apabila ada ada yang merusak hutan akan mendapatkan balasan. Bahkan, warga yang tidak ikut merusak konon akan terkena imbas. Sehingga, hutan ini bebas dari aktivitas pengrusakan.

Kepercayaan orang Rejang tentang Harimau  Leluhur itupun diulas oleh William Marsden dalam Bukunya " The History of Sumatera" yang terbit tahun 1783. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: