Informasi palsu alias hoaks di media sosial menyebut Desil 1 yang tergolong Miskin Ekstrem adalah warga dengan pengeluaran di bawah Rp500 ribu per bulan.
Adapun warga yang masuk kelompok superkaya atau Desil 10 adalah yang memiliki pengeluaran di atas Rp 3 juta per bulan.
Namun, BPS memastikan pengelompokan berdasarkan nominal angka pengeluaran per kapita per bulan yang beredar di medsos itu tidak sesuai dengan standar pengategorian resmi pemerintah.
BPS tidak mengklasifikasikan desil hanya berdasarkan besaran pendapatan atau pengeluaran semata.
"Desil harus dibaca sebagai posisi relatif, bukan sebagai label kelas ekonomi," ujar Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat BPS Budi Setiawan.
Secara teknis, pemeringkatan itu dilakukan dengan mengurutkan seluruh keluarga berdasarkan estimasi tingkat kesejahteraan.
Populasi tersebut dibagi menjadi sepuluh kelompok yang masing-masing mencakup 10 persen keluarga.
Desil 1 mewakili 10 persen keluarga dengan posisi kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan Desil 10 adalah kelompok dengan posisi relatif paling tinggi.