PASANG IKLAN ONLINE AGUSTUS

EMAS LANGKA & RUGI 20 TRILIUN: Apakah Beli Emas Digital Aman di 2026?

EMAS LANGKA & RUGI 20 TRILIUN: Apakah Beli Emas Digital Aman di 2026?

EMAS LANGKA & RUGI 20 TRILIUN: Apakah Beli Emas Digital Aman di 2026?--

RADARLEBONG.ID-Emas digital 2026 aman atau berisiko? Simak analisis kelangkaan emas global, kasus rugi Rp20 triliun di China, regulasi BAPPEBTI dan OJK, serta strategi aman investasi emas digital di Indonesia.

Fenomena Gold Scarcity 2026 dan Rekor Harga Rp3 Juta

Tahun 2026 ditandai dengan fenomena gold scarcity atau puncak kelangkaan emas global. Harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran Rp3 juta, memicu lonjakan minat investasi di Indonesia.

Banyak investor yang telah menabung emas sejak lama menikmati keuntungan signifikan, bahkan ada yang mencatatkan portofolio ratusan juta rupiah.

BACA JUGA:Harga Emas Hari Ini 14 Februari 2026 Turun: Update PT Antam, UBS & Galeri 24 Kompak Anjlok

Lonjakan harga ini terjadi di tengah ketimpangan struktural antara permintaan dan pasokan. Permintaan emas global meningkat tajam akibat ketidakpastian geopolitik yang mendorong investor mencari aset safe haven. Namun, produksi emas dunia justru mengalami stagnasi.

Defisit Produksi 1.300 Ton dan Minimnya Tambang Baru

Dunia mengalami defisit produksi sekitar 1.300 ton emas dalam satu tahun. Sejak tahun 2000, hampir tidak ada penemuan deposit emas raksasa baru. Meskipun harga emas berada di level tertinggi, perusahaan tambang tidak bisa serta-merta meningkatkan produksi karena keterbatasan sumber daya.

Akibatnya, pasar global semakin bergantung pada emas daur ulang, seperti perhiasan bekas. Ketimpangan ini memicu tekanan likuiditas dan berdampak pada keterlambatan pencairan emas fisik di berbagai negara.

Krisis Likuiditas Emas Digital di Inggris dan China

Di London, pusat perdagangan emas dunia, terjadi keterlambatan pengiriman emas fisik. Jika sebelumnya brankas Bank of England hanya membutuhkan 2–3 hari untuk distribusi, kini waktu tunggu bisa mencapai 4–8 minggu karena lonjakan permintaan.

Kasus JWR Group dan Kerugian Rp20 Triliun di China

Di Shenzhen, China, platform perdagangan emas digital swasta bernama JWR Group diduga mengalami kolaps. Ribuan investor tidak dapat mencairkan dana maupun menarik emas fisik. Kerugian ditaksir mencapai 10 miliar yuan atau sekitar Rp20 triliun.

Model bisnis yang digunakan diduga menyerupai shadow banking, dengan leverage tinggi hingga 50 kali dan tanpa kewajiban cadangan emas fisik 1:1. Ketika harga emas melonjak dan investor melakukan pencairan massal, platform tidak mampu memenuhi kewajiban.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: