RADARLEBONG.ID-Anggota Komisi IX DPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa, menyerukan perlunya kampanye digital yang menitikberatkan pada pencegahan penyakit zoonosis, termasuk virus Nipah. Legislator asal Jawa Barat ini menekankan pentingnya edukasi masyarakat mengenai interaksi aman dengan hewan dan menjaga kebersihan pangan.
“Banyak tantangan kesehatan di masa depan berasal dari zoonosis, penyakit yang menular dari hewan ke manusia, seperti virus Nipah. Pemerintah harus memanfaatkan platform digital untuk menjangkau masyarakat luas dan mengedukasi mereka mengenai protokol berinteraksi dengan hewan serta menjaga makanan agar tetap aman,” ujar Neng Eem di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Neng Eem mengusulkan agar kementerian terkait memproduksi konten edukasi yang kreatif dan mudah dipahami, termasuk cara mencuci buah dengan benar dan menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh hewan liar. Ia berharap kampanye digital ini bisa menjangkau daerah pelosok melalui media sosial dan jaringan komunikasi publik.
“Protokol kesehatan harus terus berkembang. Menjaga kebersihan makanan, misalnya mencuci buah yang mungkin terkena air liur kelelawar, adalah bagian dari pertahanan kesehatan nasional,” tambahnya.
BACA JUGA:Wamenkes Tegaskan Virus Nipah Belum Masuk Indonesia, Begini Penjelasan dan Langkah Antisipasinya
Legislator ini juga menekankan perlunya kolaborasi antara pakar kesehatan manusia dan hewan dalam merancang materi kampanye, agar informasi yang sampai ke masyarakat akurat, berbasis sains, namun tetap sederhana.
“Kampanye digital yang cerdas dapat membangun kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan. Tujuannya agar masyarakat dapat menerapkan protokol kesehatan secara sadar sebagai bagian dari gaya hidup,” jelas Neng Eem.
Dengan memperkuat literasi digital, Neng Eem berharap mata rantai penularan penyakit zoonosis dapat diputus sejak di tingkat rumah tangga. Hal ini sekaligus mendukung upaya skrining ketat yang dilakukan pemerintah di pintu-pintu masuk negara.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap virus Nipah meskipun belum ada kasus di Indonesia. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan bahwa virus ini bersifat zoonotik dengan kelelawar buah sebagai inang utama dan dapat menular melalui hewan perantara, seperti babi, atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi cairan tubuh hewan yang terinfeksi.
Virus Nipah masuk dalam daftar prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena potensi pandeminya. Di Indonesia, populasi kelelawar buah yang tersebar luas membuat kewaspadaan sejak dini sangat penting. Neng Eem menekankan bahwa peningkatan literasi masyarakat tentang risiko zoonosis dapat mengubah perilaku sehari-hari, termasuk standar pencucian bahan pangan dan pembatasan kontak dengan hewan liar, menjadi budaya kesehatan baru yang efektif mencegah wabah sebelum terjadi.