PASANG IKLAN ONLINE AGUSTUS

Harus Memutar 3 Kilometer, Nestapa Warga Lebong Pasca Jembatan Putus Diterjang Banjir

Harus Memutar 3 Kilometer, Nestapa Warga Lebong Pasca Jembatan Putus Diterjang Banjir

Harus Memutar 3 Kilometer, Nestapa Warga Lebong Pasca Jembatan Putus Diterjang Banjir-foto :dok/radarlebong-

LEBONG.RADARLEBONG.ID - Kondisi jembatan yang putus akibat diterjang banjir bah di Desa Pelabuhan Talang Leak, Kecamatan Bingin Kuning, Kabupaten Lebong, hingga kini masih belum dapat digunakan.

Kerusakan infrastruktur yang terjadi sejak bencana banjir pada 7 Mei 2026 lalu itu menyebabkan sejumlah warga yang tinggal di seberang aliran Sungai Ketahun terisolir dan mengalami kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Jembatan tersebut merupakan salah satu akses vital yang menghubungkan permukiman warga dengan pusat aktivitas masyarakat.

Namun setelah dihantam derasnya arus banjir bah yang melanda wilayah Kabupaten Lebong, bangunan jembatan mengalami kerusakan berat hingga terputus total. Akibatnya, akses penyeberangan yang selama ini menjadi jalur utama warga tidak lagi dapat dilalui.

BACA JUGA:11 Jembatan Gantung di Lebong Rusak Diterjang Banjir Bandang, Perbaikan Baru Diusulkan Tahun 2027

Berdasarkan data yang dihimpun, banjir bah yang melanda Kabupaten Lebong pada awal Mei lalu tidak hanya merusak satu jembatan. Sedikitnya terdapat 11 jembatan gantung yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ketahun mengalami kerusakan dan tidak dapat difungsikan.

Kerusakan tersebut berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonomi, pertanian, dan kebutuhan sehari-hari pada akses penghubung tersebut.

Salah satu dampak paling dirasakan terjadi di Desa Pelabuhan Talang Leak. Sedikitnya enam rumah warga yang berada di seberang Sungai Ketahun kini berada dalam kondisi terisolir. Warga yang bermukim di kawasan tersebut harus mencari jalur alternatif untuk keluar masuk wilayah mereka setelah jembatan utama tidak lagi bisa digunakan.

Salah satu warga, Debi Putra Herlambang mengungkapkan bahwa akses alternatif yang tersedia mengharuskan mereka menempuh perjalanan lebih jauh dengan jarak mencapai sekitar tiga kilometer.

Jalur tersebut menjadi satu-satunya pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari berbelanja kebutuhan pokok hingga membawa hasil pertanian keluar dari wilayah tersebut.

Menurutnya, kondisi ini tentu menambah beban masyarakat. Selain membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama, biaya operasional juga meningkat karena warga harus mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan untuk mencapai lokasi tujuan.

Kesulitan semakin dirasakan oleh para petani yang selama ini mengandalkan akses jembatan untuk mengangkut hasil panen dari kebun menuju pasar atau pusat pengumpulan hasil pertanian.

"Tidak hanya penghuni enam rumah yang terdampak langsung. Namun terdapat ratusan masyarakat yang memiliki lahan perkebunan di seberang Sungai Ketahun. Mereka harus menyeberangi kawasan tersebut secara rutin untuk melakukan perawatan tanaman maupun memanen hasil kebun," jelasnya.

Lebih lanjut, ia berharap berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait segera memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut. Mereka meminta adanya langkah percepatan perbaikan jembatan atau pembangunan akses penghubung sementara agar mobilitas masyarakat dapat kembali normal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait