PASANG IKLAN ONLINE AGUSTUS

Harga Emas Turun Tajam? Faktor Fundamental yang Menekan dan Potensi Kenaikan Emas 2026

Harga Emas Turun Tajam? Faktor Fundamental yang Menekan dan Potensi Kenaikan Emas 2026

Harga Emas Turun Tajam? Faktor Fundamental yang Menekan dan Potensi Kenaikan Emas 2026--

RADARLEBONG.ID-Analisis lengkap faktor penurunan harga emas global 2026, dampak suku bunga The Fed, dolar AS, inflasi, Treasury Yield, profit taking, serta potensi kenaikan emas jangka panjang dari permintaan bank sentral, risiko geopolitik, dan pergerakan emas di Indonesia.

Faktor Fundamental yang Menekan Harga Emas Global dalam Jangka Pendek

Keputusan Suku Bunga The Fed dan Dampaknya pada Harga Emas

Keputusan The Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75% mengubah ekspektasi pasar yang sebelumnya menunggu pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas karena emas merupakan aset non yielding yang tidak memberikan bunga atau arus kas.

BACA JUGA:IHSG Melemah, Harga Emas Dunia Tembus USD5.000 Per Troy Ons Setelah Koreksi Tajam

Akibatnya, investor jangka pendek cenderung mengalihkan dana ke instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah AS. Pergeseran aliran dana ini menciptakan tekanan harga emas dalam jangka pendek tanpa menghilangkan peran emas sebagai aset lindung nilai.

Penguatan Dolar AS sebagai Tekanan terhadap Permintaan Emas Global

Emas diperdagangkan dalam denominasi dolar AS sehingga penguatan dolar secara langsung meningkatkan harga emas bagi investor non dolar. Kondisi ini menurunkan permintaan global karena biaya pembelian emas menjadi lebih tinggi. Penguatan dolar terjadi seiring kebijakan suku bunga yang relatif menarik serta arus modal global yang mencari stabilitas likuiditas di Amerika Serikat. Secara historis, penguatan dolar hampir selalu berkorelasi dengan tekanan jangka pendek pada harga emas.

Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS dan Opportunity Cost Emas

Kenaikan Treasury Yield meningkatkan daya tarik aset berimbal hasil dibanding emas. Obligasi pemerintah AS menawarkan keuntungan yang jelas dan relatif aman, sementara emas tidak memberikan return langsung. Investor institusional merespons kenaikan yield dengan menyesuaikan portofolio dan memindahkan sebagian dana dari emas ke instrumen berbasis bunga. Peningkatan opportunity cost memegang emas memicu tekanan harga yang bersifat struktural dalam fase pengetatan likuiditas global.

Ekspektasi dan Realita Inflasi AS yang Lebih Stabil

Emas cenderung merespons selisih antara ekspektasi inflasi dan realisasi data, bukan hanya tingkat inflasi itu sendiri. Data inflasi AS yang bergerak sesuai atau sedikit lebih rendah dari ekspektasi pasar mengurangi narasi inflasi tak terkendali. Kondisi inflasi yang relatif stabil memberi ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, sehingga katalis kenaikan emas belum muncul dalam jangka pendek.

Aksi Ambil Untung Investor setelah Fase Kenaikan Panjang

Kenaikan signifikan harga emas sejak 2023 hingga 2025 mendorong investor institusional melakukan profit taking ketika muncul ketidakpastian jangka pendek. Penjualan teknikal ini merupakan rebalancing portofolio yang rasional, bukan tanda kepanikan pasar. Koreksi akibat aksi ambil untung sering terlihat tajam, namun secara struktural mencerminkan fase penyesuaian sehat dalam tren jangka panjang emas.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait