Perang Timur Tengah Dongkrak Harga Emas di Indonesia
ilustrasi Perang Timur Tengah Dongkrak Harga Emas di Indonesia-foto :tangkapan layar/youtube-
RADARLEBONG.ID-Perang Timur Tengah mendorong kenaikan harga emas Antam, emas perhiasan 16 karat, serta memicu risiko energi global akibat penutupan Selat Hormuz dan penyesuaian harga BBM di Indonesia.
Kenaikan Harga Emas Antam Akibat Geopolitik Timur Tengah
Harga emas di pasar domestik mengalami lonjakan seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Per awal pekan, harga logam mulia produksi Antam tercatat naik signifikan sebesar Rp100.000. Kenaikan ini menempatkan harga emas batangan 1 gram di level Rp3.135.000. Pergerakan harga tersebut mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu konflik regional.
Emas kembali dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven) oleh masyarakat dan pelaku pasar. Ketika risiko geopolitik meningkat, minat terhadap emas cenderung menguat karena logam mulia dianggap mampu menjaga nilai kekayaan di tengah volatilitas ekonomi dan ketidakpastian pasokan energi dunia.
BACA JUGA:Tips Beli & Simpan Logam Mulia Antam Agar Kemasan Tidak Rusak dan Nilai Jual Tetap Tinggi
Pergerakan Harga Emas Perhiasan 16 Karat di Pasaran
Selain emas batangan, harga emas perhiasan turut mengalami penyesuaian. Emas perhiasan 16 karat berada di kisaran Rp2.100.000 per gram. Perbedaan harga ini dipengaruhi oleh kadar kemurnian, biaya produksi, serta margin ritel. Meski demikian, tren kenaikan tetap terasa dan berdampak langsung pada perilaku konsumen.
Masyarakat mulai memanfaatkan momentum kenaikan harga dengan menjual emas perhiasan maupun emas batangan. Aktivitas ini semakin meningkat menjelang bulan Ramadan, ketika kebutuhan konsumsi rumah tangga cenderung bertambah dan likuiditas menjadi prioritas.
Penutupan Selat Hormuz dan Dampaknya pada Pasokan Energi Global
Pemerintah Iran secara resmi menutup lalu lintas di Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dan gas dunia. Penutupan ini berdampak besar karena sekitar 20% pasokan bahan bakar global melewati jalur tersebut. Hambatan distribusi ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi secara internasional.
Kenaikan harga minyak dan gas dunia memiliki efek berantai terhadap perekonomian global, termasuk inflasi dan biaya produksi. Kondisi ini memperkuat sentimen positif terhadap emas, karena investor mencari aset yang relatif stabil di tengah tekanan harga energi.
Risiko Ketahanan Energi Indonesia di Tengah Krisis Global
Menurut pernyataan pemerintah, apabila terjadi krisis energi akibat gangguan impor minyak, stok bahan bakar minyak di Indonesia hanya mampu bertahan selama 21 hari. Ketergantungan terhadap impor energi menjadikan ketahanan energi nasional sangat rentan terhadap dinamika geopolitik global.
Situasi ini mendorong urgensi pembangunan fasilitas penyimpanan energi (storage) guna memperkuat cadangan nasional. Ketahanan energi yang terbatas bukan hanya berdampak pada sektor industri dan transportasi, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
