Dokumen Epstein Files Picu Perdebatan Baru soal Digital Health dan Pandemi
Nama Dharma Pongrekun kembali muncul di tengah perhatian publik menyusul terbitnya dokumen yang dikenal sebagai Epstein Files oleh otoritas Amerika Serikat--
RADARLEBONG.ID-Nama Dharma Pongrekun kembali muncul di tengah perhatian publik menyusul terbitnya dokumen yang dikenal sebagai Epstein Files oleh otoritas Amerika Serikat. Berkas ini memuat berbagai korespondensi email Jeffrey Epstein, termasuk salah satu yang dikirim ke Bill Gates pada 2017 mengenai gagasan “simulasi pandemi strain”.
Dalam dokumen tersebut, Epstein disebut membahas potensi penggunaan sistem kesehatan digital untuk mengumpulkan data kesehatan masyarakat secara real-time. Namun, detail spesifik mengenai “simulasi pandemi” tidak dijelaskan lebih lanjut.
Meski pandemi Covid-19 baru dilaporkan pertama kali pada akhir Desember 2019, beberapa warganet kemudian berspekulasi bahwa gagasan Epstein mungkin terkait dengan penanganan pandemi global yang terjadi pada awal 2020.
“Sepertinya kami perlu meninjau kembali semua informasi yang selama ini kami anggap benar,” tulis akun @pacxxxxx.
“Bukan soal siapa benar atau salah, tapi inovasi digital ini memang menarik untuk dipelajari,” komentar akun @firxxxxx.
Fenomena ini menyoroti bagaimana informasi baru dapat memengaruhi persepsi publik, meski tidak ada bukti yang menunjukkan adanya korelasi langsung antara gagasan Epstein dengan pandemi Covid-19.
Dokumen itu menekankan sisi inovatif penggunaan digital health system dalam pengelolaan data kesehatan, bukan sebagai indikasi bahwa pandemi direkayasa. Meski demikian, publik kembali terdorong untuk mendiskusikan isu penting terkait kedaulatan data, kebijakan kesehatan digital, dan kesiapsiagaan pandemi.
Dharma Pongrekun dan Diskusi Publik
Rilis Epstein Files membuat pernyataan Dharma Pongrekun pada debat Pilgub Jawa Barat 2024 kembali ramai diperbincangkan. Saat itu, Dharma mengaitkan pandemi Covid-19 dengan kepentingan pihak asing.
“Agenda pandemi ini memang kompleks dan melibatkan banyak pihak internasional,” ujar Dharma saat debat, yang kemudian menuai kontroversi karena dianggap kurang berbasis data akademik.
Kini, beberapa warganet menanggapi ulang pernyataannya dengan nada lebih kritis namun reflektif:
"Menarik, ternyata gagasan digital health memang sudah dibahas jauh sebelumnya. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya," tulis @Rin***.
“Diskusi soal kedaulatan data dan penanganan pandemi jadi makin relevan di 2026 ini,” tambah @Ran***.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa meski dokumen baru muncul, masyarakat tetap mencoba memaknai informasi tersebut untuk memahami konteks teknologi kesehatan dan kebijakan publik, alih-alih langsung menilai konspirasi atau agenda tersembunyi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
