13 Merek Mobil yang Menghadapi Krisis dan Risiko Kebangkrutan
ILUSTRASI 13 Merek Mobil yang Menghadapi Krisis dan Risiko Kebangkrutan-foto :tangkapan layar/youtube-
Maserati: Eksklusivitas Tanpa Kualitas Seimbang
Maserati kehilangan arah dengan produk yang mahal tapi kualitas interior, finishing, dan teknologi tertinggal dibandingkan pesaing seperti Mercedes. Masalah kelistrikan dan komponen rusak sebelum waktunya sering terjadi. Depresiasi cepat membuat investasi pada Maserati sangat berisiko, dan potensi merek terbuang sia-sia meski mobil seperti Ghibli atau Levante tetap menarik secara desain.
Genesis: Tantangan Melawan Merek Jerman
Genesis, merek premium Hyundai, memiliki desain dan fitur kompetitif, tetapi gagal membangun status di pasar global. Depresiasi nilai sangat cepat—J80 misalnya turun dari Rp60.000 menjadi Rp25.000 dalam 3 tahun. Penjualan di luar Korea Selatan minim, jaringan dealer terbatas, dan masalah perangkat lunak serta keandalan merusak citra. Genesis tidak mampu menyaingi BMW atau Mercedes yang telah membangun prestise selama puluhan tahun.
Alfa Romeo: Keindahan yang Rapuh
Alfa Romeo menjual emosi dan desain spektakuler, namun keandalan rendah dan biaya servis tinggi membebani pemilik. Model andalan seperti Giulia dan Stelvio gagal memenuhi target penjualan. Strategi elektrifikasi samar dan dukungan produk minim membuat investasi pada Alfa Romeo berisiko tinggi. Kendati performa tinggi seperti Giulia Quadrifoglio menonjol, masalah sistemik dan biaya tinggi mengurangi daya tarik merek.
Lincoln: Kemewahan Amerika yang Tertinggal
Lincoln tetap bergantung pada SUV, dengan model seperti Navigator unggul dibandingkan koleksi lainnya. Penjualan di luar AS sangat minim, upaya menembus pasar Tiongkok gagal, dan strategi elektrifikasi lemah. Merek ini dianggap milik generasi tua dan gagal menarik konsumen muda. Ford dapat menghentikan produksi Lincoln jika tren ini berlanjut, seperti yang terjadi pada Mercury sebelumnya.
Smart: Mobil Kota yang Menjadi Merek Zombie
Smart, awalnya inovatif dengan mobil kota kecil dan efisien, kini gagal di pasar global. Model listrik memiliki jangkauan terbatas dan harga tinggi, membuat penjualan menurun drastis. Mercedes mempertahankan Smart hanya sebagai laboratorium perkotaan, bukan sebagai bisnis menguntungkan. Depresiasi cepat dan fungsionalitas terbatas menjadikan Smart keputusan pembelian yang sangat berisiko.
Ringkasan Krisis Merek Otomotif
Ke-13 merek ini menghadapi penurunan karena kualitas, inovasi, adaptasi pasar yang buruk, dan ketidakmampuan mempertahankan prestise historis. Membeli mobil dari merek-merek ini pada 2026 meningkatkan risiko depresiasi cepat, kesulitan suku cadang, dan dukungan purna jual yang diragukan. Penelitian menyeluruh sebelum membeli menjadi keharusan untuk menghindari kerugian finansial.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
