RADARLEBONG.ID - Siapa bilang menanam cabai rawit di dataran rendah selalu penuh risiko? Umumnya, petani khawatir serangan virus dan hama akan membuat tanaman cepat rusak dan hasil jauh dari harapan.
Namun, pengalaman Mbah Wiyan dari Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, membuktikan hal sebaliknya.
Di usia 75 tahun, beliau berhasil menanam 6.400 pohon cabai rawit di lahan bekas galian batu bata, tanah liat yang keras dan sulit diolah.
Menariknya lagi kali ini beliau tanpa olah lahan, musim sebelumnya beliau menanam CMK, setelah CMK di cabut langsung ditanami cabai rawit ini.
BACA JUGA:Metode 5-30-7 untuk Merebus Daging agar Empuk
Meski varietas yang digunakan belum tahan virus, hasilnya tetap menawan.
Tanaman tumbuh subur, buahnya lebat, dan hingga petikan ke-9 pun kondisi tanaman masih sehat dan produktif.
Lebih mengagumkan lagi, semua perawatan dilakukan sendiri oleh Mbah Wiyan dengan cara sederhana tapi penuh ketelatenan.
Artikel ini akan mengulas lebih dalam rahasia perawatan ala Mbah Wiyan, bagaimana ia menjaga tanaman tetap aman dari serangan virus, membuat tanah liat menjadi produktif, dan mempertahankan performa tanaman di musim yang penuh tantangan.
Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa dengan pengalaman, ketekunan, dan strategi yang tepat, cabai rawit belum tavi di dataran rendah pun bisa tetap berlimpah panen tanpa terserang virus.
Perawatan Fase Vegetatif
Pada fase vegetatif, daun tanaman cabai masih tergolong muda dan sangat rentan terhadap serangan kutu kebul, serangga kecil yang menjadi pembawa utama virus gemini. Inilah tahap paling krusial yang sering menentukan berhasil tidaknya budidaya cabai rawit di dataran rendah. Namun, Mbah Wiyan memiliki cara tersendiri dalam menjaga tanamannya tetap sehat dan tumbuh optimal meskipun berada di lahan tanah liat bekas galian batu bata. Langkah pertama yang dilakukan Mbah Wiyan adalah pemupukan rutin menggunakan NPK dengan cara dikocor. Dosis dimulai dari 2 kg pada awal tanam, kemudian secara bertahap ditingkatkan hingga 30 kg pada akhir pengocoran, dilakukan setiap 10 hari sekali. Setelah pemupukan, tanaman dikocor kembali menggunakan air biasa setiap 5 hari sekali. Cara ini sangat penting karena tanah liat memiliki kadar kelembapan tinggi namun cepat mengeras saat kering, sehingga penyiraman rutin membantu menjaga ketersediaan air di zona akar dan mencegah tanaman layu permanen akibat kekurangan air.