Cara Fermentasi Kotoran Kambing Yang Bau Bisa Jadi Pupuk Subur

Senin 25-05-2026,16:15 WIB
Reporter : Miya Diosi
Editor : Reni Apriani

 

RADARLEBONG.ID - Fermentasi kotoran kambing kini semakin dilirik sebagai cara praktis mengubah limbah ternak menjadi pupuk organik yang lebih berguna.

Proses ini membantu menekan bau, mengurangi patogen, dan meningkatkan kandungan nutrisi yang dibutuhkan tanaman.

Pupuk kandang kambing memang tidak bisa diperlakukan sembarangan karena unsur haranya sangat bervariasi.

Perbedaan itu dipengaruhi oleh jenis hewan, usia, makanan, alas kandang, hingga cara penyimpanan sebelum diolah.

BACA JUGA:Suzuki XL7 Hybrid 2026 Mulai Rp291 Jutaan, Irit BBM

Kotoran kambing yang digunakan sebaiknya masih segar dan bebas dari bahan kimia atau pestisida. Bahan lain yang dibutuhkan adalah mikroorganisme pengurai seperti EM4 atau MOL, air bersih, gula merah atau molase, serta sekam padi atau jerami. Setiap bahan punya fungsi yang jelas dalam proses fermentasi. Sekam padi atau jerami membantu memperbaiki struktur campuran dan mengurangi bau, sementara gula merah atau molase menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme.

 

Kotoran kambing dicampur lebih dulu dengan sekam padi atau jerami agar aerasi lebih baik. Setelah itu, gula merah atau molase ditambahkan, lalu air secukupnya dimasukkan supaya campuran tetap lembab.

 

Tahap berikutnya adalah menuangkan EM4 atau MOL ke dalam adonan kotoran kambing. Campuran harus diaduk rata agar mikroorganisme tersebar merata dan dapat mengurai bahan organik secara optimal. Setelah tercampur, bahan disimpan dalam wadah tertutup seperti tong plastik atau karung. Lokasinya perlu gelap, terlindung dari hujan, tetapi tetap memiliki ventilasi yang baik.

 

Fermentasi umumnya berlangsung 2-4 minggu, tergantung suhu dan kelembaban lingkungan. Selama masa itu, campuran perlu diaduk setiap 3-5 hari agar proses berjalan merata dan pembusukan bisa dicegah.

 

Kelembaban juga harus dijaga selama proses berlangsung. Jika bau tidak sedap muncul, kondisi campuran perlu diperiksa karena itu biasanya menandakan pengelolaan kelembaban belum tepat. Setelah 2-4 minggu, hasil fermentasi perlu diperiksa secara langsung. Pupuk yang sudah matang biasanya berubah menjadi lebih gelap, tidak berbau menyengat, dan teksturnya lebih lembut.

Kategori :