RADARLEBONG.ID - Menanam jahe merah di polybag kini menjadi pilihan praktis bagi warga yang hanya punya lahan sempit.
Cara ini juga menarik karena jahe merah punya nilai ekonomi lebih tinggi dibanding jahe biasa dan banyak dicari sebagai bahan baku herbal serta farmasi.
Kuncinya ada pada teknik yang tepat sejak awal. Jika bibit, media tanam, dan perawatannya dipilih dengan benar, jahe merah bisa tumbuh besar, sehat, dan memberi hasil panen yang lebih optimal meski ditanam di halaman rumah.
Pemilihan bibit menjadi langkah paling penting dalam budidaya jahe merah.
BACA JUGA:Vespa 946 Horse Hadir di Indonesia, Dijual Terbatas
Rimpang yang dipilih sebaiknya sudah tua, dengan usia 10-12 bulan, terlihat segar, berisi, tidak keriput, dan memiliki mata tunas yang jelas. Bibit juga harus bebas dari luka dan tanda pembusukan akibat jamur. Sebelum ditanam, rimpang sebaiknya disemai dulu di tempat lembab dan teduh sampai tunas muncul sekitar 1-2 cm agar tanaman tidak kaget saat dipindahkan.
Jahe merah membutuhkan media yang porous karena rimpangnya akan berkembang lebih leluasa di tanah yang gembur. Campuran terbaik yang digunakan adalah tanah gembur atau topsoil, pupuk kompos atau kandang, dan sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1.
Polybag yang dipakai juga tidak boleh terlalu kecil. Ukuran minimal 40 cm diperlukan supaya rimpang punya ruang tumbuh yang cukup sampai masa panen.
Setelah media siap, isi polybag hingga 3/4 bagian saja. Buat lubang tanam sedalam 5-7 cm, lalu letakkan bibit dengan mata tunas menghadap ke atas dan tutup tipis dengan tanah.
Penanaman yang terlalu dalam justru berisiko menghambat tunas baru. Kondisi itu juga dapat meningkatkan kemungkinan busuk akar, sehingga kedalaman tanam perlu dijaga dengan cermat.