LEBONG.RADARLEBONG.ID - Harga cabai di Kabupaten Lebong terus mengalami penurunan hingga akhir April 2026. Kondisi ini membuat para pedagang di pasar tradisional harus beradaptasi dengan melemahnya harga jual yang berdampak langsung terhadap omzet harian mereka.
Saat ini, harga cabai di pasaran hanya berada di kisaran Rp 22 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram. Angka tersebut turun cukup drastis dibandingkan harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp40 ribu per kilogram. Penurunan harga ini mulai dirasakan sejak pasca Idulfitri dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda stabil kembali.
Salah satu Pedagang, Sumarni (45) menyebut, turunnya harga cabai dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah melimpahnya stok dari petani lokal maupun pasokan dari luar daerah. Banyak petani yang memasuki masa panen secara bersamaan sehingga jumlah cabai yang beredar di pasar meningkat tajam.
"Tingginya produksi tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat maupun permintaan pasar yang signifikan. Akibatnya, harga jual di tingkat petani maupun pedagang ikut menurun karena pasokan lebih besar dibanding kebutuhan konsumsi," ungkap Sumarni.
Sumarni juga mengatakan, kondisi ini cukup memengaruhi penghasilan mereka. Meski barang tersedia banyak, keuntungan yang diperoleh justru semakin kecil karena harga jual terus menurun.
"Sekarang harga cabai hanya sekitar Rp 22 ribu sampai Rp 25 ribu per kilogram. Sebelumnya bisa sampai Rp40 ribu per kilogram. Penurunannya cukup tajam dan jelas sangat berpengaruh terhadap pendapatan kami," ujarnya.
Menurutnya, ketidakstabilan harga cabai mulai terasa setelah momentum Idulfitri berlalu. Saat menjelang Lebaran, harga cabai biasanya meningkat karena permintaan masyarakat naik. Namun setelah itu, harga justru terus melemah seiring masuknya hasil panen dalam jumlah besar dari para petani.
Situasi ini membuat pedagang harus lebih berhati-hati dalam mengambil stok dagangan. Jika membeli dalam jumlah terlalu banyak sementara harga terus turun, mereka berisiko mengalami kerugian karena cabai merupakan komoditas yang cepat rusak dan tidak bisa disimpan terlalu lama.
"Selain pedagang, para petani juga ikut merasakan dampak dari turunnya harga jual ini. Harga yang rendah membuat hasil panen tidak memberikan keuntungan maksimal, terlebih jika biaya produksi seperti pupuk, tenaga kerja, dan transportasi tetap tinggi," jelasnya.
Meski demikian, pedagang juga mengaku khawatir dengan kondisi cuaca ekstrem yang masih sering terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Hujan deras yang berkepanjangan maupun perubahan cuaca yang tidak menentu berpotensi mengganggu hasil panen petani.
Jika kondisi tersebut menyebabkan gagal panen atau distribusi cabai dari petani terganggu, maka harga cabai diperkirakan bisa kembali melonjak tajam dalam waktu singkat. Kondisi seperti ini dinilai dapat menciptakan ketidakstabilan pasar yang merugikan semua pihak.
"Kalau sekarang harga memang turun karena stok banyak, tapi kami juga khawatir kalau cuaca buruk terus terjadi dan petani gagal panen. Kalau stok mulai berkurang, harga bisa naik sangat tinggi dan itu juga menyulitkan," tambah Sumarni.