Fungsi Uang Gobok di Era Majapahit
Pada masa kejayaannya, uang gobok tidak hanya digunakan sebagai alat tukar dalam perdagangan, tetapi juga berfungsi sebagai alat pembayaran pajak. Peran ganda ini memperlihatkan pentingnya uang koin dalam sistem pemerintahan dan ekonomi Majapahit.
Perubahan Fungsi Uang Gobok di Masa Kini
Di era modern, uang gobok Majapahit tidak lagi digunakan sebagai alat transaksi. Namun, di beberapa daerah di Indonesia, terutama Jawa dan Bali, replika atau uang gobok lama masih dimanfaatkan untuk keperluan upacara adat, sesajen, serta dianggap memiliki nilai simbolis dan spiritual. Banyak pengrajin logam memproduksi uang gobok untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Harga Uang Gobok Majapahit di Pasaran Kolektor
Di berbagai marketplace online, uang gobok umumnya dijual dengan kisaran harga mulai dari Rp20.000 hingga mencapai Rp5 juta per keping. Harga tersebut sangat bergantung pada kondisi fisik, keaslian, kelengkapan relief, serta nilai historis yang melekat pada koin tersebut. Semakin tua dan langka koinnya, semakin tinggi pula nilai jualnya.
Koin Logam Kerajaan Lain di Nusantara
Selain Majapahit, beberapa kerajaan lain di Nusantara juga menerbitkan koin logam sebagai alat transaksi resmi.
Uang Gobok Kerajaan Banten
Kerajaan Banten memproduksi uang gobok berbentuk bulat pipih dengan lubang segi enam. Pada koin berukuran besar dan sedang, terdapat tulisan Jawa bertuliskan “Pangeran Ratu” atau “Pangeran Ratu ing Banten”, yang menunjukkan otoritas penguasa pada masa itu.
Koin Logam Jambi Bertulisan Arab
Di wilayah Jambi, koin logam diproduksi dari timah dan banyak ditemukan di Sumatera. Koin ini umumnya memuat tulisan Arab, seperti “choco lavard Al Mukmin”, serta mencantumkan tahun pembuatannya dalam penanggalan Hijriyah, menandakan pengaruh budaya dan agama yang kuat.