40 Persen Pasangan Usia Subur di Lebong Sakti Pilih KB Suntik
ilustrasi , KB Suntik -foto :magnific.com-
LEBONG.RADARLEBONG.ID-Mayoritas pasangan usia subur (PUS) di Kecamatan Lebong Sakti, Kabupaten Lebong, memilih menggunakan alat kontrasepsi jenis suntik. Berdasarkan data terbaru, penggunaan KB suntik mendominasi hingga 40 persen dari total akseptor di wilayah tersebut.
Selain KB suntik, metode kontrasepsi yang digunakan masyarakat meliputi pil KB sebesar 30 persen, implan 10 persen, kondom 7 persen, serta metode operasi wanita (MOW) atau sterilisasi sebesar 3 persen.
Sementara sekitar 10 persen lainnya merupakan pasangan yang sedang merencanakan kehamilan atau belum menggunakan alat kontrasepsi.
Penyuluh KB Kecamatan Lebong Sakti, Herman, A.Ma.Ag., mengatakan tingginya minat masyarakat terhadap KB suntik dipengaruhi faktor kepraktisan dalam penggunaannya.
BACA JUGA:Jalan Rusak Puluhan Tahun, Danau Liang–Turan Ingep Hanya Dianggarkan Rp 900 Juta
"Warga di Lebong Sakti mayoritas memilih KB suntik karena praktis. Pilihannya ada yang satu bulan sekali atau tiga bulan sekali. Jika menggunakan pil, banyak yang merasa keberatan karena harus dikonsumsi setiap hari," ujar Herman saat diwawancarai Radar Lebong.
Herman menjelaskan, penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), seperti implan dan IUD, masih tergolong rendah. Kondisi tersebut disebabkan masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai efektivitas metode kontrasepsi jangka panjang dibandingkan metode jangka pendek.
"Sebenarnya, implan atau IUD jauh lebih efisien karena cukup sekali pasang dan bisa bertahan hingga tiga tahun. Jadi, akseptor tidak perlu rutin melakukan suntik atau meminum pil setiap hari," jelasnya.
Meski demikian, Herman mengapresiasi tingginya kesadaran masyarakat Lebong Sakti dalam mengikuti program keluarga berencana. Menurutnya, saat ini program KB tidak lagi dipandang sebagai sebuah paksaan, melainkan telah menjadi kebutuhan bagi keluarga untuk merencanakan kehidupan yang lebih baik. Guna mendukung hal tersebut, BKKBN terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Selain membantu pengaturan jumlah dan jarak kelahiran, program KB juga menjadi salah satu upaya penting dalam menekan angka stunting. Dengan perencanaan kehamilan yang baik, pemenuhan gizi serta pola asuh anak dinilai dapat berjalan lebih optimal.
"Ber-KB merupakan salah satu indikator penting dalam penurunan angka stunting. Jarak kelahiran yang terjaga membuat pemenuhan gizi dan perhatian terhadap anak menjadi lebih optimal. Sebaliknya, jika jarak kelahiran terlalu dekat, dikhawatirkan kebutuhan gizi dan perhatian untuk anak tidak akan terpenuhi secara maksimal," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
