PASANG IKLAN ONLINE AGUSTUS

Debu Tambang dan Cuaca Tak Menentu, Kombinasi Pemicu Tingginya ISPA di Lebong

Debu Tambang dan Cuaca Tak Menentu, Kombinasi Pemicu Tingginya ISPA di Lebong

ilustrasi --

LEBONG.RADARLEBONG.ID - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kembali menjadi perhatian serius di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.

Berdasarkan data pelayanan kesehatan, penyakit tersebut tercatat paling banyak menyerang para pekerja tambang emas, terutama yang beraktivitas di wilayah Kecamatan Tubei.

Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebong untuk mengingatkan pentingnya penerapan protokol kesehatan di lingkungan kerja tambang.

Lonjakan kasus ISPA diperkirakan terjadi seiring cuaca ekstrem yang melanda wilayah Lebong dalam beberapa bulan terakhir.

BACA JUGA:Info Pasar Murah Ramadhan di Lebong, Hanya Dianggarkan dari APBD Rp 38 Juta

Perubahan suhu yang tidak menentu, dari panas terik ke hujan secara tiba-tiba, dinilai berdampak langsung pada menurunnya daya tahan tubuh masyarakat. Situasi tersebut membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus dan bakteri penyebab gangguan saluran pernapasan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebong, Rachman SKM, membenarkan bahwa pekerja tambang menjadi kelompok paling dominan yang terserang ISPA.

Menurutnya, selain faktor cuaca, lingkungan kerja yang berdebu serta aktivitas fisik berat turut meningkatkan risiko penyakit pernapasan apabila tidak diimbangi dengan perlindungan kesehatan yang memadai.

"Pekerja tambang ini sangat rentan. Kami minta kepada pemilik tambang agar benar-benar mewajibkan para pekerjanya mematuhi protokol kesehatan, terutama penggunaan masker dan pengaturan waktu istirahat," tegas Rachman.

Data Puskesmas Sukau Datang menunjukkan, ISPA menempati peringkat teratas dari sepuluh jenis penyakit yang paling sering ditangani. Sejak awal tahun ini, sedikitnya 17 pasien tercatat menjalani pemeriksaan dan perawatan akibat ISPA. Mayoritas pasien datang dengan keluhan batuk, pilek, demam, serta sesak napas ringan, dan sebagian besar diketahui berprofesi sebagai pekerja tambang emas.

Rachman menjelaskan, kondisi cuaca ekstrem sangat berpengaruh terhadap sistem imun tubuh. Saat daya tahan tubuh menurun, risiko terpapar penyakit pernapasan meningkat, terlebih bagi mereka yang bekerja di luar ruangan dan terpapar debu dalam waktu lama.

"Peralihan cuaca dari panas ke hujan ini sangat memengaruhi kondisi tubuh. Ketika imunitas melemah, ISPA menjadi penyakit yang paling mudah menyerang," ujarnya.

Selain faktor alam, Dinkes Lebong juga menyoroti gaya hidup masyarakat yang masih kurang mendukung kesehatan. Minimnya waktu istirahat, pola makan yang tidak seimbang, serta kebiasaan bekerja tanpa alat pelindung diri, seperti masker, dinilai menjadi faktor pendukung tingginya angka ISPA di kalangan pekerja tambang.

"Padahal pencegahan ISPA bisa dilakukan dengan langkah-langkah sederhana. Kesadaran masyarakat, khususnya pekerja tambang, masih perlu terus ditingkatkan," kata Rachman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: