Pikul Baru

Pikul Baru

Oleh: Dahlan Iskan BEGITU besar harapan kita pada tahun baru 2022. Apalagi setelah mendengar pidato Presiden Jokowi di depan Kompas100 menjelang tutup tahun 2021. Kompas100 adalah indeks harian Kompas untuk saham 100 emiten di pasar modal Jakarta, BEJ. Begitu besar optimisme Presiden Jokowi. Kita ikut optimistis. Semangat kita ikut terpompa. Seperti juga dulu. Ketika optimisme itu dipompa oleh pidato beliau di pasar modal: bahwa ekonomi kita akan meroket. Kali ini Presiden Jokowi menyebut tiga proyek baru. Semuanya raksasa, prestisius. Dan bisa memuaskan emosi kita –yang sudah lama geregetan. Misalnya soal pembangunan rumah sakit internasional di Bali. Yang ground breaking-nya dilakukan Presiden dua hari lalu. Itu bisa menjawab kegundahan nasional: mengapa jutaan rakyat Indonesia berobat ke luar negeri. Ikut menghabiskan devisa negara. Itu terjawab sekarang: tidak perlu lagi ke Singapura. Atau ke Penang. Cukup ke Bali saja. Akan ada rumah sakit internasional seluas 41 hektare di Bali. Sambil rekreasi. Tentu urusan rumah sakit bukan hanya soal bangunan fisik. Yang penting juga teknologi. Dan yang lebih penting lagi: kehebatan dokternya, perawatnya, pelayanannya. Saya tentu ikut rombongan yang gembira. Apalagi kalau sudah tahu rencana detailnya: spesialisasi sakit apa saja yang akan diunggulkan. Jantung dan pembuluh darah. Stroke dan brain. Pencernaan dan usus. Kecantikan dan restorasi. Stem Cell dan Cell Cure. Diabetes dan ikutannya. Dan apa lagi. Atau hanya sebagiannya? Pekerjaan berat lain: bagaimana cara merekrut dokter ahli tingkat dunia agar mau menetap di Bali. Sekarang ini, banyak pasien ikut saja dokternya. Di mana ada dokter hebat, ke RS itu pasien akan pergi. Dokternya pindah RS, pasien ikut pindah pula. Sekarang ini, sebenarnya, sudah banyak RS yang hebat-hebat. Banyak pula dokter yang luar biasa. Tapi membuat RS terhebat di Bali memang masuk akal. Apalagi, selama ini, banyak yang iri atas majunya wisata pengobatan di Singapura maupun di Penang, Malaysia. Setidaknya pemerintah sudah memberikan muara pada emosi kita. Soal bagaimana menjadikannya bermutu kita lihat empat-lima tahun lagi. Tapi mungkin juga tidak perlu risau. Pemerintah punya cara pintas untuk mengatasi semua itu: mengandalkan nama besar nomor 1 di dunia: Mayo Clinic, Amerika Serikat. Dengan nama Mayo orang tidak perlu lagi bertanya: siapa dokternya. Mayolah yang jadi jaminannya. Anda sudah tahu: Mayo Clinic memiliki center of excellence berkelas dunia. Terutama untuk penanganan kesehatan yang kompleks dan serius, termasuk penyakit kanker. Presiden SBY, sukses menjalani operasi kanker prostatnya di Mayo Clinic. Bulan lalu. Tidak hanya di pengobatan. Juga di bidang medical check-up. Bahkan di Mayo ada penanganan pasien dengan pendekatan whole person care: melihat pasien secara utuh dari fisik, pikiran, kejiwaan. Kalau seperti itu rasanya akan bisa bersaing dengan Singapura. Tidak perlu dipersoalkan siapa yang punya. Toh yang di Singapura atau yang di Penang itu juga bukan kita yang punya. Mayo Clinic Care Network memiliki jaringan global yang kuat di Amerika Serikat, Meksiko, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, dan Uni Emirat Arab. Mereka berkolaborasi untuk meningkatkan layanan medis. “Mayo Clinic berkomitmen untuk melakukan sharing pengetahuan dan keahlian medis antara tenaga kesehatan Indonesia dengan para ahli di Mayo Clinic Care Network,” ujar Arya MahendraSinulingga, jubir Kementerian BUMN. Optimisme tahun baru lainnya dipompakan Presiden Jokowi di bidang industri. Presiden sudah meresmikan dimulainya pembangunan industrial estate terbesar di Indonesia –jangan-jangan terbesar di dunia. Lokasinya: di Kalimantan Utara. Tepatnya di Kabupaten Bulungan. Lebih tepatnya lagi di Pantai Tanah Kuning. Meski masuk Kabupaten Bulungan, tapi lokasi itu lebih dekat ke ibu kota Kabupaten Berau di Kaltim. Tidak jauh dari perbatasan antara Kaltim dan Kaltara. Berarti Kaltim dan Kaltara akan jadi masa depan Indonesia. Anda sudah tahu: ibu kota baru Indonesia di Kaltim. Dan kini industrial estate terbesar ada di provinsi sebelahnya. Itu bukan hanya terbesar. Itu juga paling ramah lingkungan. Paling hijau. Green Industrial Park. Luasnya: 10.000 hektare. Yang akan bisa diperluas menjadi 30.000 hektare. Bukan main. Itu pikiran terbesar keempat dari Presiden Jokowi. Yang kalau terwujud akan dikenal sepanjang masa: ibu kota baru, jalan tol, smelter nikel, dan kini green industrial estate. Di dalam industrial estate itu masih ada pula sejarah lain: dibangunnya pembangkit listrik tenaga air terbesar di Indonesia. Itulah PLTA hulu sungai Kayan. Itulah sungai terpanjang di Kaltara. Yang meski muaranya di dekat Tarakan tapi hulunya tidak jauh dari perbatasan Berau. Berarti tidak terlalu jauh dari industrial park tadi. Rupanya sumber listrik dari air itulah yang jadi menentu mengapa disebut Green Industrial Park. Semua itu, sekarang ini, masih perawan ting-ting. Maka, kalau proyek ini terlaksana, akan seperti ibu kota baru. Lebih sulit lagi. Lebih ke pedalaman lagi. “Pelabuhan dan bandara baru akan dibangun,” ujar Bupati Bulungan Syarkawi yang saya hubungi kemarin sore. Untuk ke lokasi PLTA itu, sekarang, hanya bisa dengan helikopter. Tidak ada jalan sama sekali. Pun setapak. Berarti harus dibangun dulu jalan raya lebih 200 Km. Dari nol. Dari mulai membabat hutan, membangun badan jalan, mengeraskan, dan mengaspalnya. Tidak cukup ada sumber batu gunung di kawasan itu. Maka batu gunung dari Palu atau Toli-Toli akan jadi pilihan terdekat. Tinggal menyeberang laut satu malam: memotong selat Makassar. Para pemilik batu gunung di Sulawesi Tengah akan ikut panen. Pun di kawasan industri Tanah Kuning itu. Masih perawan. Belum ada secuil pun pelabuhan. Belum ada pula bandara. Berarti harus membangun pelabuhan baru. Yang besar sekali. Yang –kalau melihat kedalaman pantainya– harus dibangun menjorok jauh ke tengah laut. Akan mahal sekali. Ini berbeda dengan konsep Gubernur Kaltim (waktu itu) Awang Faruq. Yang akan membangun industrial estate di Maloy –dekat Sangatta. Yang kedalaman pantainya lebih 20 meter. Berarti nasib Maloy menjadi tersisihkan. Maloy memang sangat dekat dengan sumber energi. Hanya 10 Km. Tapi batu bara. Tanah Kuning lebih dekat ke energi hijau: PLTA Krayan. Meski yang disebut dekat itu sekitar 200 Km. Pilihan seperti itu menandakan energi oriented lebih diutamakan. Energi menjadi pertimbangan utamanya. Batu bara akan habis dalam 50 tahun –atau kurang dari itu. Air sungai Kayan tidak pernah habis –seumur hidup. Batu bara, kotor. Air, bersih. Harga listrik dari batu bara 5 cent dolar/kWh. Harga listrik dari PLTA-besar hanya 2,5 cent. PLTA-lah yang dimenangkan. Dan itu berarti memerlukan investasi yang luar biasa lebih besar. Belum lagi harus membangun bandara baru. Di pantai itu. Jalan tol perlu biaya besar –tapi bisa terwujud. Sulitnya keuangan bukan main, toh teratasi –atau akan teratasi. Ibu kota baru perlu biaya segajah. Segera terwujud. Cari uangnya begitu sulit. Toh bisa diperoleh –atau akan diperoleh. Dua proyek besar yang kelihatannya sulit itu toh bisa berjalan. Sukses harus membawa sukses berikutnya. Sukses kecil melahirkan rasa percaya diri kecil. Sukses besar melahirkan percaya diri yang besar. Percaya diri Presiden Jokowi terlihat kian besar. Dua proyek raksasa lagi akan ia pikul dalam sekali pikul. Tahun Baru, Pikulan Baru. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: