BENGKULU, RADARLEBONG.ID - Tata kelola perkebunan berkelanjutan, berkeadilan, berkedaulatan, dan berkerakyatan, baik dari aspek lingkungan maupun hak asasi manusia sangat perlu untuk direvisi seiring terus meningkatnya kasus persengketaan dan gangguan perkebunan di daerah-daerah.
Hal itu diungkapkan oleh Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengenai pengawasan terhadap Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan serta perubahannya dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. "Termasuk kurang tertibnya administrasi pertanahan di banyak daerah. Dalam kunjungan-kunjungan advokasi yang dilakukan DPD RI, khususnya Komite II, sebagian besar konflik ini tak dapat ditangani secara baik," kata Hj Riri Damayanti John Latief, Selasa (3/1/2023). Alumni SMP Negeri 1 Kota Bengkulu ini menjelaskan, sejak beberapa tahun yang lalu, tata kelola sektor perkebunan dinilai belum mencerminkan aspek keadilan, karena hanya menguntungkan investor besar, meminggirkan petani dan masyarakat adat, serta lebih dari itu, mengancam lingkungan. BACA JUGA:Ceritakan Kebaikan Bengkulu Kepada Dunia "Undang-Undang Perkebunan yang ada belum sepenuhnya mengatur dengan baik masalah sosial dan masalah lingkungan dalam aktivitas perkebunan besar. Tendensi perkebunan tidak ramah kepada masyarakat adat dan tidak ramah pada sustainability," ujar Hj Riri Damayanti John Latief. Dewan Penasehat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Bengkulu ini memaparkan, konflik agraria di Indonesia didominasi oleh permasalahan di sektor perkebunan, baru kemudian diikuti oleh sektor kehutanan dan pertambangan. "Pemicunya paling banyak disebabkan tuntutan masyarakat untuk pengembalian lahan atau yang sering disebut dengan lahan adat. BACA JUGA:Tantangan dan Strategi Upaya Wujudkan Kemakmuran dan Kesejahteraan Masyarakat Bengkulu Ada juga laporan tentang lahan-lahan masyarakat yang digarap perusahaan tanpa prosedur yang benar dan ganti rugi yang tak wajar oleh perusahaan atas lahan milik rakyat," tandas Hj Riri Damayanti John Latief. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Barisan Pemuda Nusantara (Bapera) Kabupaten Kepahiang ini menambahkan, perkebunan memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional, antara lain dari aspek ekonomi, aspek sosial dan aspek ekologis. "Tapi dalam praktiknya banyak sekali hambatan. Ke depan, tata kelola perkebunan ini mesti bisa membuat rakyat dan para investor berdiri sejajar. Setiap kemitraan yang terbangun harus adil, jangan sampai menimbulkan konflik lagi," demikian tutup Hj Riri Damayanti John Latief.Dorong Revisi Tata Kelola Perkebunan Berkelanjutan
Rabu 04-01-2023,06:59 WIB
Kategori :
Terkait
Kamis 25-07-2024,17:10 WIB
Wakil Bupati Lebong Optimis Capai Target Nasional Penurunan Stunting 14% di Tahun 2024
Selasa 26-09-2023,11:56 WIB
Harimau Leluhur di Bukit Sarang Macan Bengkulu, Hutan Lindung Desa yang Tak Bisa Terjamah oleh Manusia
Selasa 26-09-2023,10:58 WIB
Sosok Harimau 'NIK, STABIK' Bagi Orang Rejang Bengkulu
Senin 25-09-2023,11:20 WIB
Tak Banyak yang Tahu, Salahsatu PLTA Tertua di Bengkulu Ini Ternyata Diresmikan oleh Presiden Soeharto
Jumat 18-08-2023,02:45 WIB
Pengumuman! 3 Besar Komisioner Bawaslu Lebong Terpilih & 9 Kabupaten/Kota di Provinsi Bengkulu
Terpopuler
Rabu 03-06-2026,19:47 WIB
Kejagung Tetapkan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan Dua Wakilnya Sebagai Tersangka Korupsi
Rabu 03-06-2026,16:55 WIB
Toyota RAV4 GR Sport PHEV 2026, Harga Segini untuk SUV Keluarga
Rabu 03-06-2026,07:36 WIB
Modus Promo Medsos, Pasutri Pemilik WO di Jaktim Tipu Puluhan Korban
Rabu 03-06-2026,08:10 WIB
Setahun Era Bupati Lebong Azhari-Wabup Bambang, WTP Kembali Diraih Bukan Berarti Tanpa Temuan
Terkini
Rabu 03-06-2026,19:52 WIB
Suka Nonton Olahraga, Ratu Bulu Tangkis Dunia An Se Young Mengaku Kenal Megawati Hangestri
Rabu 03-06-2026,19:47 WIB
Kejagung Tetapkan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan Dua Wakilnya Sebagai Tersangka Korupsi
Rabu 03-06-2026,19:40 WIB
Investor Pilih Main Aman, IHSG Tertekan Kombinasi Sentimen Domestik dan Global
Rabu 03-06-2026,16:55 WIB