Petani Lebong Tengah Beralih Tanam Cabai
Petani Lebong Tengah Beralih Tanam Cabai -foto :carles/radarlebong-
LEBONG.RADARLEBONG.ID - Upaya meningkatkan perekonomian keluarga terus dilakukan para petani di Kecamatan Lebong Tengah dengan memanfaatkan areal persawahan yang mengering melalui sistem tanaman selingan. Lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam padi kini dimanfaatkan untuk membudidayakan berbagai komoditas produktif, seperti semangka, pepaya, jagung, hingga cabai.
Pemanfaatan lahan sawah tersebut dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Sebab, lahan pertanian tidak lagi hanya bergantung pada produksi padi, tetapi dapat digunakan untuk tanaman hortikultura yang memiliki nilai jual di pasaran.
Kondisi ini menjadi pilihan petani, khususnya saat musim kemarau ketika ketersediaan air tidak mencukupi untuk mengolah sawah dan menanam padi. Daripada lahan dibiarkan terbengkalai, petani memilih menanaminya dengan komoditas yang tetap dapat memberikan penghasilan.
Alih fungsi lahan dari tanaman padi ke tanaman hortikultura, salah satunya cabai, kini cukup marak dilakukan masyarakat Lebong. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pendapatan ekonomi keluarga sekaligus memanfaatkan lahan pertanian agar tetap produktif.
BACA JUGA: KLH Nilai Pengelolaan TPA Air Kopras Lebong Belum Sesuai Standar Lingkungan
Salah seorang petani Desa Karang Anyar, Dahmur (40), memilih mengolah lahan sawah miliknya untuk budidaya cabai. Di atas lahan seluas seperempat hektare, ia mengeluarkan modal awal sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta.
Modal tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari proses pembibitan, pemupukan, perawatan tanaman hingga masa panen. Dari budidaya tersebut, Dahmur mengaku berpeluang memperoleh keuntungan hingga dua sampai tiga kali lipat dari modal awal, terutama ketika harga cabai di pasaran berada di atas Rp20.000 per kilogram.
"Budidaya cabai tidaklah sulit, tetapi juga tidak bisa dibilang gampang. Butuh kegigihan dan ketekunan untuk mendapatkan hasil yang maksimal," ujar Dahmur saat dikonfirmasi Radar Lebong.
Menurut Dahmur, proses budidaya cabai sejak pembenihan hingga memasuki masa panen membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Selama periode tersebut, petani harus rutin melakukan pemantauan terhadap kondisi tanaman untuk memastikan pertumbuhannya tetap optimal.
Selain melakukan perawatan secara berkala, pemberian pupuk juga menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan hasil produksi. Petani memberikan pupuk secara teratur, baik pupuk organik maupun pupuk buah, sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Jenis cabai yang dikembangkan Dahmur merupakan cabai lokal atau cabai kampung. Setelah memasuki masa panen, hasil produksi cabai tersebut langsung dibeli oleh tengkulak di lokasi perladangan sehingga petani tidak perlu membawa hasil panen ke lokasi lain untuk memasarkannya.
Pemanfaatan sawah mengering untuk tanaman hortikultura menjadi salah satu alternatif bagi petani dalam menjaga produktivitas lahan selama musim kemarau. Selain menghasilkan pendapatan tambahan, pola tanam tersebut juga membuat lahan pertanian tetap produktif meski tidak dapat ditanami padi.
"Kami sebagai petani sangat berharap pemerintah dapat memberikan pembinaan secara rutin, salah satunya melalui pelatihan pembuatan pupuk organik dari bahan alam sekitar agar hasil panen semakin melimpah," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
