PASANG IKLAN ONLINE AGUSTUS

Signifikansi Strategis Selat Hormus dalam Geopolitik Energi Global

Signifikansi Strategis Selat Hormus dalam Geopolitik Energi Global

Signifikansi Strategis Selat Hormus dalam Geopolitik Energi Global--

RADARLEBONG.ID-Pelajari signifikansi Selat Hormus sebagai jalur minyak dunia, status hukum internasionalnya menurut UNCLOS, serta peran strategis Iran dan Oman dalam menjaga keamanan energi global.

Selat Hormus merupakan titik tumpu paling kritis dalam infrastruktur energi dunia. Secara geografis, selat ini membentang sepanjang 167 km dengan lebar yang bervariasi antara 39 hingga 96 km.

Namun, jalur pelayaran efektif yang dapat dilalui oleh kapal-kapal tanker raksasa jauh lebih sempit, yakni hanya sekitar 3,2 km untuk setiap arah navigasi.

Pemisahan jalur ini bertujuan untuk meminimalkan risiko tabrakan di salah satu jalur air tersibuk di dunia.

BACA JUGA:Selat Hormus: Urat Nadi Distribusi Energi dan Logistik Global

Posisi selat ini sangat unik karena menjadi satu-satunya pintu keluar masuk bagi negara-negara penghasil minyak utama di Teluk Persia seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Tanpa akses melalui Selat Hormus, pasokan energi dari wilayah ini tidak dapat mencapai pasar global melalui jalur laut, menjadikannya sebagai "leher botol" (chokepoint) yang menentukan stabilitas ekonomi internasional.

Volume Perdagangan Minyak dan Gas Alam Cair

Pentingnya Selat Hormus tercermin dalam volume komoditas yang melintasinya setiap hari. Berdasarkan data Badan Informasi Energi Amerika Serikat, sekitar 18 hingga 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan melewati jalur ini setiap harinya. Angka tersebut merepresentasikan sekitar 20% dari total konsumsi minyak bumi dunia dan hampir 30% dari seluruh perdagangan minyak global melalui jalur laut.

Selain minyak mentah, selat ini memegang peranan vital dalam distribusi Gas Alam Cair (LNG). Qatar, sebagai salah satu eksportir LNG terbesar di dunia, sangat bergantung pada selat ini untuk mengirimkan pasokannya ke pasar internasional. Negara-negara industri di Asia, termasuk Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan, merupakan importir terbesar yang kelangsungan energinya sangat bergantung pada keamanan lalu lintas di Selat Hormus. Gangguan pada jalur ini dipastikan akan memicu lonjakan harga energi dan inflasi global.

Sejarah dan Asal-usul Nama Kerajaan Ormus

Nama Hormus berakar dari sejarah panjang Kerajaan Ormus yang menguasai wilayah tersebut antara abad ke-10 hingga abad ke-17. Pada masa kejayaannya, kerajaan ini merupakan kekuatan regional yang mengendalikan jalur perdagangan rempah-rempah, sutra, dan barang mewah antara dunia Timur dan Barat. Secara etimologi, nama tersebut diyakini berasal dari kata Persia Hurmok yang berarti pohon kurma, atau dikaitkan dengan Ahura Mazda (Hormoz) dalam tradisi Zoroaster.

Seiring runtuhnya Kerajaan Ormus, selat ini menjadi ajang perebutan kekuasaan antara bangsa Portugis, Inggris, serta kekuatan lokal seperti Persia dan Oman. Salah satu konflik modern yang paling berdampak adalah "Perang Tanker" selama Perang Iran-Irak (1980-1988), di mana kapal-kapal komersial menjadi sasaran serangan militer. Insiden tragis lainnya terjadi pada tahun 1988 ketika angkatan laut Amerika Serikat menembak jatuh pesawat penumpang Iran Air 655, sebuah peristiwa yang hingga kini masih membayangi hubungan diplomatik kedua negara.

Status Hukum Internasional Berdasarkan UNCLOS

Secara hukum, Selat Hormus tidak dimiliki secara eksklusif oleh satu negara manapun. Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut atau United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), khususnya Pasal 37 hingga 45, Selat Hormus diklasifikasikan sebagai selat internasional. Status ini memberikan "hak lintas transit" bagi kapal-kapal dari semua negara.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: