First Class Indonesia: Sherley Yahya Kornaat Berdarah Rejang, Membangun Legasi Budaya Lewat Nilai dan Makna
First Class Indonesia: Sherley Yahya Kornaat Berdarah Rejang, Membangun Legasi Budaya Lewat Nilai dan Makna --ig@sherleyyahya
LEBONG.RADARLEBONG.ID - Tentunya Masyarakat Bengkulu masih ingat dengan Sherley Yahya Kornaat, yang pernah mengharumkan nama baik Provinsi Bengkulu ke tingkat Nasional bahkan internasional lewat prestasinya salah satunya Puteri Indonesia Provinsi Bengkulu 2002 ini, dirinya muncul lagi ke muka publik,.
Kali ini dirinya membawa kisah inspiratif. Yaitu Sherley Yahya Kornaat menyajikan First Class Indonesia, membangun legasi budaya bagi Tanah Air melalui cerita, nilai, dan makna.
Sherley Yahya Kornaat, mengatakan, dalam membangun First Class Indonesia ini, bukan hanya sekadar menghadirkan sebuah serial televisi premium saja.
Namun proyek ini adalah perjalanan yang sangat panjang bagi seorang perempuan Indonesia yang secara sadar memilih tekad yang kuat untuk membangun legasi budaya bagi tanah airnya yang melalui cerita, nilai, dan makna.
BACA JUGA:Pemkab Lebong Siapkan Kampung Ramadhan 1447 H, Seluruh UMKM Difasilitasi Modal dan Tenda
Sebagai perempuan Indonesia yang hidup dan berkarya di antara Indonesia dan Eropa, dirinya memahami bahwa identitas tidak pernah berhenti untuk berkembang. Di dalam diri dan jiwanya tumbuh bersama pengalaman, refleksi, dan tanggung jawab atas cara sebuah bangsa direpresentasikan di mata dunia.
"Melalui First Class Indonesia ini, dirinya menghadirkan Indonesia bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi sebagai peradaban hidup yang penuh spiritualitas, tradisi, kebijaksanaan, dan cerita manusia," kata Sherley Yahya Kornaat.
Lebih jauh, Perjalanan Sherley di ruang publik Indonesia dimulai sejak usia muda, ketika dirinya terpilih sebagai anggota Paskibraka Tingkat Nasional pada tahun 1997 yang mewakili Provinsi Bengkulu, tak berhenti disitu saja pada tahun 2002 Sherley terpilih sebagai
Miss Indonesia 2002 mewakili Provinsi Bengkulu. Apalagi Sherley merupakan lulusan Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, sebuah latar belakang akademis yang membentuk cara pandangnya terhadap diplomasi, relasi antarbangsa, dan peran budaya sebagai jembatan global.
Dengan pengalaman tersebut itulah yang menjadi titik awal pemahamannya tentang arti representasi bukan sebagai sorotan semata, melainkan sebagai amanah. Dua dekade kemudian, pemahaman itu berkembang menjadi visi yang lebih matang tentang bagaimana citra Indonesia seharusnya dibangun secara bermartabat dan berkelanjutan. Seiring waktu, perjalanan tersebut diperkaya oleh fondasiintelektualnya.
"Benang merah inilah yang kini terasa kuat dalam First Class Indonesia, sebagai bentuk soft diplomacy yang lembut, manusiawi, dan relevan bagi audiens internasional," jelasnya.
Dalam serial ini, Sherley memimpin perjalanan sebagai pemandu budaya dan membawakan program bersama Carolien ter Linden, seorang presentatrice asal Belanda. Carolien hadir sebagai rekan dialog dan representasi perempuan Eropa yang mengalami Indonesia dengan rasa ingin tahu yang jujur dan perspektif yang membumi.
Dinamika keduanya menciptakan percakapan lintas budaya yang alami bukan menggurui, melainkan saling memahami. Dalam program First Class Indonesia ini membawakan pemirsa menyusuri tiga wilayah yang dipilih bukan semata karena keindahannya tetapi karena maknanya. Yaitu Bali sebagai ruang spiritual dan keseimbangan hidup, kemudian wilayah Sumba sebagai simbol keaslian dan tradisi leluhur, serta wilayah Lombok sebagai refleksi harmoni antara alam, keberlanjutan, dan masa depan.
Jadi didalam setiap episode, Sherley secara sadar memilih untuk menampilkan Indonesia melalui resor-resor paling prestisius di negeri ini bukan sekadar simbol kemewahan, melainkan contoh bagaimana pariwisata kelas dunia dapat berjalan seiring dengan budaya, alam, dan tanggung jawab sosial. Di Sumba, perjalanan berlabuh di NIHI Sumba, ikon global yang dikenal karena pendekatannya terhadap keberlanjutan, dampak sosial, dan pelestarian tradisi lokal.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
